Selasa, 28 Februari 2017

Aku Menikah Denganmu Karena Aku MencintaiNya

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pernikahan seharusnya mendatangkan kebaikan, bukanlah
sebuah keraguan. Jika dengan menikah, membuat seseorang semakin mudah untuk dekat kepada Allah, lalu kenapa masih ragu?






Kisah ini menceritakan seorang wanita yang memiliki keraguan akan calon suaminya. Namun ia hanya pasrah dan menerima pinangan lelaki yang sudah berstatus duda tersebut. Pada saat malam setelah acara pernikahan mereka, keraguan wanita ini sekejab sirna setelah suaminya memberikan sesuatu padanya.

Berikut kisah selengkapnya

Pukul 05:30
Langkahku kini kian ringan, menjelang detik-detik hari pernikahanku. Aku seolah memiliki kekuatan baru untuk menyongsong masa depan. Keraguan itu kini tak lagi menyelimuti hatiku, meski tak dapat ku pungkiri aku masih setengah hati mencintainya. Tapi toh dia mampu meyakinkan ku untuk menerima pinangannya

Malam itu, adalah pertemuan terakhir kami mejelang hari H akad nikah, ia katakan banyak hal yang membuatku merenung dan ikhlas menerimanya untuk jadi suamiku.

“Mungkin, buatmu aku bukanlah sosok laki-laki yang kau harapkan Nay… pertemuan yang cukup singkat, dengan pendekatan yang seadanya… aku yakin, saat ini pasti ada perasaan ragu di hatimu” tak seperti biasanya, kala itu ia berani memegang kedua tanganku, memegang erat jari jemariku sambil menatap wajahku ia pun melanjutkan apa yang ia ingin katakan padaku.

“Hanya sebuah niat tulus untuk mengajakmu lebih dekat kepada Allah yang aku punya. Apapun yang terjadi aku siap menerima, jika kau ingin mengurungkan pernikahan kita 1 minggu ke depan aku ikhlas Nay…,” Matanya begitu redup dan penuh dengan kelembutan, saat itu ia terlihat begitu tampan tak seperti biasanya.

Raut mukanya terlihat sedikit memelas. Aku pun hanya terdiam, entah kenapa tiba-tiba hatiku seolah menangis, “inikah jalan hidupku Ya Allah?” Kutundukkan kepala sejenak, sembari berusaha untuk menahan air mata yang akan keluar dari kedua mataku.

“Jodoh, mati, rejeki sudah ada yang mengatur, kita manusia hanya berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita disertai doa, kita jalani saja apa yang sudah sampai saat ini kita usahakan mas…,” Sambil tersenyum, ku ucapkan kata-kata itu, dengan raut muka yang memberikan pengharapan padanya.

Tak ada yang salah dengan status dudanya, sosoknya yang begitu ramah membuat dia memiliki banyak teman. Pekerjaannya sebagai pengusaha bengkel saat ini juga cukup lumayan untuk menghidupiku dan anak-anak kami kelak. Postur tubuhnya tinggi besar, dengan sedikit lesung pipit di pipinya. Fisiknya cukup lumayan untuk ukuran laki-laki tampan, tapi entah kenapa aku tak juga bisa mencintainya sepenuh hati. Mungkin karena beberapa sifatnya yang tidak aku suka, benar yang ia katakan “Dengan pendekatan yang cukup singkat, aku yakin pasti kau memiliki rasa ragu di hati mu saat ini Nay…” hmmm… dia sedikit kasar, tidak beraturan, dan “kisruh” kalau kata orang Jawa. Dia memang tak pernah membentakku, tapi nada bicaranya selalu lantang dan ga ada halus-halusnya sama sekali. Bukan hanya itu, aku paling tidak suka dengan sikapnya yang semaunya sendiri.
Pernah suatu ketika, saat kami keluar bersama untuk sekedar makan malam di warung pinggir jalan. Selesai dari warung “Nasi Bebek Pak No”, kami tak langsung pulang, mampir di sebuah tempat penjualan terang bulan dan martabak daging, dalam penantian matangnya terang bulan dan martabak, kami bertemu dengan mantan istrinya yang sekarang bekerja di Surabaya. Maksudku menghampiri mantan istrinya, hanya sekedar mengobrol dan berkenalan sambil menanti jajanan pesanan kami matang. Namun dengan nada bicara yang tak bisa halus, ia mencegahku. Bukan hanya itu, ia bahkan menarik pergelangan tanganku dengan kuat, hingga hampir saja aku jatuh di tengah kerumunan pembeli lainnya. Saat itu, aku mulai menyadari. Sifat egois dan kasarnya begitu melekat di dirinya, aku begitu jengkel dan kesal rasanya. Belum pernah aku diperlakukan yang menurutku kasar seperti itu oleh laki-laki yang mengaku cinta kepadaku. Tiga kali menjalin hubungan dekat dengan laki-laki, dialah laki-laki yang paling kasar di antara tiga itu, dan bisa dibilang hanya dia yang kasar, sedangkan 2 teman dekat lelakiku terdahulu, begitu sopan lembut dan sangat perhatian kepadaku meskipun endingnya tiada keseriusan dari mereka. Hmmm.. mungkin memang inilah jalan hidupku. Ya Rabb.. tak seharusnya aku menghitung-hitung kekurangannya menjelang detik Ijab Qabul yang akan dia ucapkan 3 jam lagi, dan tak terasa air mataku mengalir begitu saja di pipi.

“Lho kok malah melamun… Inayah kamu menangis nak?” Ibuku datang, dan membuyarkan segala lamunanku, “Kamu bahagia kan Nak?”

Dengan sedikit terisak sambil tersenyum aku menjawab “hiks.. hiks… bahagia bu, bahagiaaa banget ternyata jodohku mas rahmat, (penuh tawa canda namun ada yang disembunyikan) di tunggu-tunggu dari Jakarta eh dari daerah Surabaya juga”

“Ibu ga pernah ajarkan kamu bohong, semoga apa yang kamu ucapkan itu benar-benar yang kamu rasakan saat ini ya Nak…” sambil memeluk dan mencium keningku

Pukul 08.20
Mas rahmat ucapkan ikrar suci itu, di balik kamar aku mendengarkan suaranya yang cukup lantang, dengan rasa nervous yang ga karu-karuan.

“Saya Terima Nikahnya Inayah Maghfirah binti Muhammad Ali dengan mas kawin sebuah Tafsir Al Qur’an di bayar tunai”

Air mata kembali mengalir membasahi pipiku yang telah terpoles dengan aneka bedak dan make up, ada rasa haru, bahagia, juga nelangsa. Ku tepis rasa sesal dan nelangsa, ku yakinkan diri bahwa dialah jodoh yang sudah Allah tentukan untukku. Aku percaya lewat dia aku akan bisa lebih dekat kepada Allah dan Rosulullah

Inilah akhir dari penantian panjangku, tiga tahun sudah aku tak menjalin hubungan dekat dengan laki-laki, dan 21 Januari 2017 ku tutup masa lajangku di usia 26 tahun bersama dengannya, mas rahmat. Duda 32 tahun, tanpa anak yang dikenalkan oleh temanku, bercerai dengan istrinya pada tahun pertama pernikahan karena ia mengalami PHK dari kantornya. Di awal perkenalan memang ada sedikit ragu di hati orang tuaku, tapi sikapnya yang mudah bergaul dengan keluargaku, membuat orang tuaku simpatik dan yakin kepadanya bahwa dia akan menjadi imam yang baik untuk putrinya kelak.

Biarlah, ku niati semua ini sebagai ibadah, bagian dari usahaku untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Serapi apapun rencana hidup seorang manusia dengan segala usahanya, jika Tuhan tidak pernah menghendaki maka takkan pernah terjadi. Karena kekuasaan tertinggi ada pada Nya.

Pukul 22.30
Suara keriuhan di rumahku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Mungkin semua telah mulai lelah dan kecape’an dengan acara pernikahanku ini. Terlebih lagi ibuku yang dari 3 minggu kemarin sudah mencicil membuat kue-kue kering sebagai buah tangan para undangan di hari pernikahanku tadi. Aku sendiri pun merasa pegal yang tak terkira, mulai dari kepala yang harus menyandang jilbab dengan balutan bunga melati asli selama seharian, pipiku yang kram karena harus tersenyum tiap kali ada yang memberiku ucapan selamat, hingga tubuhku yang kesal bukan main karena seharian duduk berdiri-duduk berdiri.

Dan malam ini ada yang berbeda dikamarku, ada sesosok manusia laki-laki yang akan selalu menemani tidurku. Hmmm.. Muhammad Rahmat, akhirnya hari ini kau resmi jadi suamiku.
Sambil kubersihkan sisa-sisa make up yang ada, aku mulai pembicaraan pertama dengan suamiku.

“Di ambilin makan mas?”
“Engga’ usah, masih kenyang”
“Oh.. ya sudah” (dengan melanjutkan menyapu pipi)
“Dek…”
Aku sedikit terkaget, kupalingkan tubuhku ke arahnya, tumben-tumbennya mas duda panggil aku dek
“Apa…? Aku..?”
“Ya iyalah, kan disini cuma ada kita berdua, masa aku panggil Dek Faris, adikmu itu”Huhhh… lagi-lagi dengan nada kasarnya, apa dia ga bisa ngomong biasa aja, ga pake’ lantang, batinku.

“iya.. iya.. apa?”
“kamu masih belum shalat ya?”
Haduh Ya Allah, aku jadi gemetar dengar pertanyaan itu, tapi inilah hidup, lahir, tumbuh dewasa, menikah, berkeluarga kemudian mati. Ga mungkin juga aku memilih hidup melajang selamanya, pastilah keluarga terutama orang tua akan geram kepadaku.

Entah wajahku terlihat nervous atau tidak, tapi dengan sedikit senyum takut ku katakan padanya kalau aku masih belum suci dari haid.
“Aku masih belum suci dari haid mas…”
“Ehmm… mas cuma tanya kok. Mas capek banget, adek juga pasti capek kan? (ia beranjak dari ranjang dan menghampiriku yang tengah duduk di depan cermin) Mas tidur duluan, kalau bersihin make up ga usah lama-lama tetep cantik kok, baca ini dulu ya sebelum tidur sayang” (hmmm… dia kecup ubun-ubun kepalaku setelah menyodorkan amplop putih yang bertuliskan “Untuk Istriku tercinta”)

Pukul 11.48
Akhirnya selesai sudah membersihkan diri, kurebahkan punggungku di atas bantal dengan posisi yang sedikit terduduk, ku lihat amplop itu, kemudian ku lihat wajah mas rahmat yang tengah tidur pulas di sampingku, ku buka dengan sedikit gemetar, jantungkupun berdegup kencang, batinku berkata tumben-tumbennya duda ini jadi romantis, pakai panggil-panggil dek segala, ada sayangnya lagi. Kubuka dengan perlahan dan mulai ku baca satu demi satu kalimatnya

Surabaya, 20 Januari 2017,
Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ku tulis surat ini ketika kau masih menjadi calon istriku, dan insya Allah ketika kau baca, kau telah sah sebagai istriku
Besok jum’at pagi, kan ku ucapkan ikrar suci itu untuk kedua kalinya. Kepada mu Inayah Maghfirah, aku menaruh banyak harapan untuk masa depan kita kelak.
Meski engkau bukan yang pertama untukku, tapi aku sangat berharap kau menjadi yang terakhir hingga ajal menjemputku nantinya. Menjadi seseorang yang akan terus setia disampingku dalam setiap tawa dan tangisku.

Perkenalan kita di rumah yanti 6 bulan lalu, membuatku menaruh rasa suka kepada mu. Aku juga tak tahu pasti, apa engkau benar-benar mempunyai rasa yang sama denganku atau hanya sekedar kasihan kepadaku. Entahlah… Yang pasti aku masih ingat betul kalimat yang pernah kau kirimkan lewat sms, ketika minggu 26 November 2016, ku minta kau untuk menikah denganku “aku akan menikah dengan mu karena aku mencintai Nya”

Ada rasa senang bercampur bingung, kenapa “karena aku mencintai Nya?” bukankah seharusnya “karena aku mencintaimu mas…?”
Jujur, sms mu saat itu membuatku tak bisa tidur semalaman. Aku berfikir, mungkinkah aku menikah dengan seorang wanita tanpa cinta? Sekasar dan sebrutalnya aku, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk memaksa seorang wanita menikah denganku.
Namun sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang kau maksud Nay, maka dari itu aku tak pernah ingin mengurungkan niatku untuk menikahimu, kecuali jika engkau yang menolak. Bukan karena aku tak tahu diri dengan status dudaku, tapi karena aku yakin, bersamamu… cintaku kepada Nya akan dapat lebih dalam lagi.

Nay… aku bukanlah laki-laki yang bisa lembut kepada wanita, tapi aku akan berusaha untuk menjadi lembut kepadamu, aku juga tidak sebegitu paham dengan agama yang aku anut, tapi aku akan berusaha untuk memahami agamaku, agar kehidupan rumah tangga kita lebih baik kedepannya, aku juga tidak begitu mengerti tentang mencintai Nya, tapi aku akan berusaha mencintai Nya lebih dari apapun, bukan karena mu tapi “karena memang aku ingin lebih mencintai Nya lagi”
Inayah Maghfirah, kamu mau kan, mendekat kepada Nya bersama-sama denganku?

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam
Akhirnya lega juga, twlah ku tuliskan segala yang mengganjal di hati selama 2 bulan, setelah kau kirimkan sms itu. Semoga setelah kau baca suratku ini, tak ada lagi rasa ragu yang menyelimuti hati mu untuk menjadi teman hidup terbaikku. Kau tak perlu berusaha untuk memaksakan diri mencintaiku, karena dengan semakin cintanya engkau kepada Dia Sang Maha Berkuasa, sudah pasti ada cinta di hatimu untukku.

Lewat rumah tangga yang mulai kita bina ini, kita sama-sama berusaha untuk lebih mencintai Nya lagi ya sayang… hehehe. Maaf kalau ada kata-kata yang terkesan berlebihan, sssst… aku ga bisa romantis “DEK”, untuk mengatakan semua ini secara langsung saja aku tak punya nyali, makanya aku pilih media surat. Terkesan jadul sich, tapi ga apalah dari pada sms, jempol mas pegel hehehe…

Semoga kejujuran ini menjadi salah satu jalan untuk kebaikan kehidupan baru kita amin

Yang kini menjadi teman hidupmu

Muhammad Rahmad

Kututup kertas surat itu dengan membasahinya, seperti biasa wanita tak pernah luput dari air mata. Ada haru bercampur bahagia setelah ku membacanya, sisi baik dari pribadiku mulai naik kembali. Jika dia sudah percaya diri seperti itu kenapa aku harus ragu? Tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan, memang itulah dia, mas rahmad tak pernah menjadi orang lain, dia menjadi dirinya sendiri, dan aku tak perlu menuntutnya untuk menjadi orang lain. Yang pasti kita punya misi dan visi yang sama dalam pernikahan baru kita ini, karena kita sama-sama ingin lebih mencintai Nya.

Kuletakkan surat itu di atas meja, matakupun mulai merasa kelelahan. Sebelum ku pejamkan mata, ku kecup kening suamiku sambil ku bisikkan kata “aku mencintaimu mas..”

Pernikahan seharusnya mendatangkan kebaikan, bukanlah sebuah keraguan. Jika dengan menikah, membuatku semakin mudah untuk dekat kepada Nya, kenapa aku harus ragu?

Semoga kisah ini menjadi inspirasi buat banyak orang, bagikanlah agar bisa jadi manfaat bagi yang lainnya.

Ditulis oleh: Ika Fitriani


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Aku Menikah Denganmu Karena Aku MencintaiNya

0 komentar:

Poskan Komentar