Rabu, 01 Maret 2017

China Minjemin Duit pake Bunga, Arab Minjamin Duit Tanpa Riba

x

x (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis Al
Saud ke Indonesia awal Maret nanti sangat istimewa. Kali terakhir raja Saudi mengunjungi Indonesia adalah pada 1970. Raja kala itu adalah Faisal bin Abdulazis Al Saud.






Nah, setelah 47 tahun, raja Saudi kembali mengunjungi Indonesia. Rombongan Raja Salman berada di Indonesia selama sembilan hari, mulai 1 Maret nanti. Tiga hari pertama berisi agenda kenegaraan resmi. Selebihnya, selama enam hari Raja Salman akan berlibur ke Bali.


Anggota rombongannya pun tidak tanggung-tanggung, mencapai 1.500 orang. Termasuk 10 menteri dan 25 pangeran. Presiden Joko Widodo akan menjemput langsung Raja Salman di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. ''Itu dilakukan karena saat Presiden ke Saudi dijemput di pintu pesawat oleh Raja Salman,'' ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Dia menuturkan, Saudi bakal menanam investasi yang cukup besar di Indonesia. Salah satunya kerja sama perusahaan minyak Saudi, Aramco, dengan Pertamina senilai USD 6 miliar (sekitar Rp 79,8 triliun) untuk pengembangan kilang minyak di Cilacap. Secara keseluruhan, diharapkan investasi yang bisa masuk dari Saudi mencapai USD 25 miliar atau sekitar Rp 332,5 triliun.

Ada lima kerja sama kedua pemerintah yang sudah disepakati. Yakni, promosi seni dan warisan budaya, pertukaran ahli kesehatan haji dan umrah, serta promosi Islam moderat yang di dalamnya mencakup dakwah dan pertukaran ulama. Ada pula program peningkatan frekuensi penerbangan dari Indonesia ke Saudi serta penanggulangan kejahatan lintas batas.

Saudi juga memberikan perhatian dalam penanggulangan terorisme di Indonesia. Khususnya terhadap para anggota Densus 88 Antiteror. ''Anggota Densus yang meninggal, orang tuanya per tahun akan dihajikan oleh Kerajaan Saudi dianggap sebagai syuhada,'' kata Pramono.

Mengenai liburan rombongan Raja Salman ke Bali, Wamenlu A.M. Fachir menilai hal itu sebagai keuntungan bagi Indonesia. ''Itu promosi luar biasa,'' ungkapnya.

***

Dari penjelasan Sekretaris Kabinet Pramono Anung salah satu kerjasama yang akan dijalin adalah "promosi Islam moderat dengan pertukaran ulama".

Jadi sekarang 'Wahabi' termasuk Islam moderat gitu? Syukurlah kalau dah insyaf.

Selama ini pendukung Jokowi kerap menyebut Saudi dengan 'Wahabi' dalam konotasi negatif. Bahkan sering pula kelompok Islam di tanah air yang tegas terhadap penguasa dijuluki dengan sebutan 'Dasar Wahabi' 'Onta' 'Anti Tahlil' dll. Tudingan-tudingan seperti itu kerap didaur ulang muncul setiap Pilkada atau Pemilu untuk menyerang lawan politiknya.

Jadi dengan kunjungan Raja 'Wahabi' yang akan berinvestasi senilai Rp 332,5 triliun ini (WOW banget) masihkan kalangan pendukung Jokowi nyinyir dengan Wahabi? Kaum Onta?

Duit 'Wahabi' emang enak, apalagi dalam kondisi negara terus mengalami defisit anggaran :)

x (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : China Minjemin Duit pake Bunga, Arab Minjamin Duit Tanpa Riba

0 komentar:

Poskan Komentar